"Kita datang ke Hastinapura sebagai keluarga, anak-anakku..., untuk berbagi kasih sayang. Namun jika mereka tak ikhlas membalasnya, artinya kita tak diberi bagian atas cinta..., maka untuk apa kita kembali kesana?" Keluh Kunti, sembari isak tangis mengiring kata-katanya.
"Tapi Ibu, kakak Yudistira sudah dinobatkan sebagai putra mahkota, dan kita punya hak untuk menetap disana, dan berkuasa" tukas Nakula
"Kita buang jauh semua itu anakku, kita tak boleh haus 'kekuasaan'. Apa
kalian lupa, Ayahmu dulu rela melepaskan segala kebesaran itu, dan
memilih tinggal didalam hutan. Lupakah kalian?" jawab Kunti, dibarengi
tangis yg memelas.
Arjuna menghampiri ibunya, tangannya terjulur menyeka airmata ibunya.
"Airmata ibu yang keluar pada saat bahagia, adalah sungai Gangga, bagi kami, anak-anakmu. Namun jika airmata yang keluar saat derita seperti ini, adalah bagai api yang membakar kami" Air matanya keluar, berkaca-kaca.
"mari Ibu, kami tak akan mau kembali ke tempat dimana ibu kami tak merasa betah tinggal didalamnya, biarlah kita jadi 'abu' dimata mereka " lanjutnya.
_SOLITAIRE_
Arjuna menghampiri ibunya, tangannya terjulur menyeka airmata ibunya.
"Airmata ibu yang keluar pada saat bahagia, adalah sungai Gangga, bagi kami, anak-anakmu. Namun jika airmata yang keluar saat derita seperti ini, adalah bagai api yang membakar kami" Air matanya keluar, berkaca-kaca.
"mari Ibu, kami tak akan mau kembali ke tempat dimana ibu kami tak merasa betah tinggal didalamnya, biarlah kita jadi 'abu' dimata mereka " lanjutnya.
_SOLITAIRE_

No comments:
Post a Comment